Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan

Jokowi Minta Menterinya Siap-siap Pindah Ibukota



Pemindahan ibukota negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Palangka Raya, Kalteng, tampaknya bukan lagi hanyar sekadar wacana.
Pasalnya, saat ini pemerintah pusat telah mulai melakukan persiapan-persiapan terkait hal itu.
Bahkan menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan sejumlah Menterian dan lembaga terkait lainnya, untuk mematangkan rencana pemindahan ibukota.
“Pak Presiden sangat serius soal ini (pemindahan ibukota), dan sudah menugaskan beberapa kementerian dan lembaga terkait untuk mempersiap termasuk Bappenas, untuk melakukan persiapan terkait rencana itu. Dan kita juga sudah membuat time table (jadwal kerja) nya,” kata Bambang, menjawab pertanyaan Kalteng Pos di sela meninjau terminal penumpang baru Bandara Tjilik Riwut, Kamis (6/4). 
lanjutkan membaca ...

Jusuf kalla: Tuan Guru Pancor NTB Pantas dijadikan Pahlawan Nasional

Wakil Presiden Jusuf Kalla secara pribadi mendukung diusulkannya Tuan Guru KH Muhammad Zainudin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor) sebagai pahlawan nasional, karena mengingat jasa-jasa beliau yang besar bagi bangsa dan negara.
Bagi saya sendiri tentu akan memberikan dukungan, karena jasa beliau tidak jauh berbeda dengan pahlawan nasional lainnya,” kata Wapres di Jakarta, Rabu (5/4
Wapres memberikan pandangannya dalam Seminar Nasional Dari Nahdlatul Wathan Untuk Indonesia “Jejak Perjuangan Tuan Guru KH Muhammad Zainudin Abdul Madjid (1904-1997)” di Kampus Universitas Negeri Jakarta.

Namun, menurut Wapres pemberian gelar pahlawan nasional tentunya harus melalui prosedur yang sudah ditentukan yaitu harus diusulkan dari daerah, dikaji secara akademik dan nantinya akan dinilai oleh tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah maupun Pusat (TP2GD/TP2GP).

“Saya yakin apa yg dilakukan Tuan Guru tidak kurang, tapi mungkin ada masalah dengan administrasi,” tambah Wapres.

Wapres juga meyakini bahwa Tuan Guru tidak semata-mata berjuang untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional, tapi yang paling penting adalah amal beliau dan bagi masyarakat penting untuk menjadi teladan apabila berbuat baik tentu semua akan menghormatinya.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah salah satu penggagas dan pengembang nasionalisme religius untuk kemerdekaan bangsa Indonesia lewat organisasi modern yakni Nahdlatul Wathan pada 1934 di kampung halamannya di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Gubernur NTB Tuan Guru Muhammad Zainal Majdi mengatakan, keharmonisan di NTB dikontribusikan sangat nyata oleh TGKH Muhammad Zainudin Abdul Masjid, karena ia membangun pendidikan agama yang inklusif.

“Itu terbangun sejak awal, maka ketika beliau membangun organisasi untuk menghimpun potensi masyarakat yang dinamakan Nahdlatul Wathan dinisbatkan untuk kemajuan tanah air,” ujar Zainal.

Lebih lanjut dia mengatakan, seminar yang digelar tersebut merupakan bagian dari proses untuk pengusulan TGKH Muhammad Zainudin Abdul Madjid sebagai pahlawan nasional.

“Mudah-mudahan tidak terlalu lama negara bisa memberikan pengakuan sebagai pahlawan nasional,” ujarnya, berharap.

HEBOH !!! Wikipedia Tulis Tanggal Kematian Jupe | CNN




 Kanker serviks yang bersarang di tubuh Julia Perez kini memang sudah masuk stadium lanjut. Proses pengobatan pun telah ia jalani, namun belum ada perkembangan berarti dari kondisi kesehatan Jupe.

Di tengah perjuangannya melawan kanker, Julia Perez malah diterpa kabar tak sedap. Salah satu situs ensiklopedia populer yakni Wikipedia, tiba-tiba menuliskan tanggal kematian pelantun "Belah Duren" tersebut.


Di sana tertera biodata singkat Julia Perez, mulai dari nama, profesi, nama pasangan, hingga karya-karyanya. Namun, di tengah-tengahnya terdapat sebuah informasi yang menyatakan bahwa Jupe telah meninggal dunia pada 13 Maret 2017 di Singapura.

Di laman Wikipedia, informasi ini memang telah dihapus. Namun saat berita ini ditulis, tautan informasi dari Wikipedia tersebut masih terpampang di halaman muka Google, saat dilakukan pencarian terhadap nama Julia Perez.    

Jelas informasi tersebut merupakan kabar bohong yang sangat mengejutkan publik. Pasalnya, hingga kini Julia Perez masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Salemba, Jakarta Pusat.

Di sisi lain, Julia Perez kabarnya baru saja menjalani kemoterapi terakhirnya yang sempat tertunda beberapa hari. Menurut pengakuan sang ibu, Sri Wulansih, Jupe berharap dirinya bisa segera pulang lantaran sudah hampir dua bulan berada di rumah sakit.
"Alhamdulillah lebih baik dari sebelumnya kok. Meskipun kemo terakhir harusnya Sabtu, tapi baru bisa dijalanin Senin kemarin karena badannya sempat panas. Dia ribut pulang melulu, tapi kata dokter kan belum boleh," ujar Sri Wulansih saat ditemui di RSCM, Jakarta, Selasa (4/4/2017) malam.

Namun, karena kondisi kesehatannya yang belum stabil, harapan Julia Perez untuk pulang belum dapat terwujud. Sebelumnya sempat tersiar kabar jika Jupe akan dibawa berobat ke Jepang.

Fox braces for fallout from Bill O'Reilly scandal》》




If Bill O'Reilly weren't the biggest star at Fox News, would he still have a job at Fox News?

Many media industry observers, reading about the harassment allegations that have cost O'Reilly and Fox millions of dollars, are saying he would not.

What does that answer say about the Murdoch media empire?



Murdoch and his sons are standing near O'Reilly, although not right next to him, by renewing his contract, but not issuing a full-throated defense.

And Fox's executives are waiting and watching, anticipating that more women will come forward with allegations against O'Reilly.

Other people in and around the cable news channel are also wondering about that -- and asking if any advertisers will avoid "The O'Reilly Factor" as a result of the scandal. A related question: will O'Reilly's viewers care about the controversy?

Murdoch associates winced on Saturday when The New York Times reported that five women received settlement payouts after accusing O'Reilly of harassment or verbal abuse. The Times said its reporting "suggests a pattern:" O'Reilly would wield his influence to "pursue sexual relationships" with women at Fox.

The story stung, but it was not surprising. For one thing, Fox executives and O'Reilly's representatives had known the Times investigation was in the works for months.


But they didn't need an investigation to know about O'Reilly's reputation. Inside Fox, there is a recognition that O'Reilly is a cable news legend, a loudmouth beloved by Fox's base -- but that he's also a liability because of his personal behavior.

O'Reilly settled a sexual harassment suit from ex-producer Andrea Mackris in 2004. (That payout accounts for $9 million of the $13 million in settlements The Times described, according to the paper.) And his ugly divorce proceedings, and the fallout from them, were documented by Gawker and its sister sites for years.

The Times (where I worked until 2013) began looking into the settlement payouts late last summer, after founding CEO Roger Ailes resigned amid a sexual harassment scandal.

The forthcoming story was the subject of C-suite office chatter throughout the winter. Murdoch associates wondered how damaging the story could be and discussed ways to blunt the impact.

The story went through an extensive legal review process. On Friday, as the Times was preparing to splash the story across the front page of Sunday's paper, a lawyer for O'Reilly threatened consequences, saying in a statement, "We are now seriously considering legal action to defend Mr. O'Reilly's reputation."

O'Reilly, 21st Century Fox said in a statement, "denies the merits of these claims."

In a statement on his web site,O'Reilly said he struck settlement deals to spare his children from hurtful headlines about lawsuits.

By the time the story came out, the Murdochs had already decided to extend O'Reilly's contract. The Murdoch-owned Wall Street Journal was the first to report the new deal, and a source confirmed it to CNNMoney.

O'Reilly's contract, said to be worth about $18 million a year, was due to expire at the end of 2017; now it is unclear when it expires.

All of the parties involved declined to comment. But the news of the new deal is a contractual show of support from 21st Century Fox.

The support has limits, however. Two executives, speaking on condition of anonymity, suggested Fox is taking a wait-and-see approach to the controversy that's been triggered by the Times investigation.

The case has parallels to professional sports, in which the business interests of teams and leagues sometimes override concerns about players' off-the-field behavior as millions of people look past the unsettling news coverage and tune in for the show.

Tau Gak Kenapa Anies Sandi Tidak Hadir ?.... | CNN


Rosiana Silalahi bersama Djarot Saiful Hidayat dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat memulai acara yang sedianya merupakan debat antara pasangan calon pada Pilkada DKI 2017 di Jakarta, Minggu 
Ada sebuah perbedaan yang sangat mencolok antara debat, blusukan, dan juga pidato dalam konsep berkampanye. Ketiga hal ini adalah hal yang lumrah dilakukan demi menggaet simpati publik dan juga menunjukkan kemampuan dan mental masing-masing calon dalam pagelaran Pilkada. Dalam proses Pilkada DKI, tiga hal ini sudah ditampilkan dalam putaran
 pertama DKI.

Kemampuan calon untuk tampil bagus dalam tiga model kampanye ini ternyata menunjukan karakter dan kemampuan sang calon kepala daerah. Calon nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono, tidak mau tampil dalam debat di televisi dan memilih melakukan blusukan ke banyak titik dan melakukan pidato di hadapan para pendukungnya. Hal yang bisa dimaklumi karena AHY mendadak nyagub.

Calon nomor urut 2, Basuki Tjahaya Purnama, meski mengaku tidak begitu suka dan lihai berkampanye dan bisanya kerja, melakukan tiga model kampanye tersebut. Porsi pidato paling minim dilakukan, paling hanya menyampaikan sesuatu dengan singkat dan padat untuk menyemangati para relawan, pendukung, dan simpatisan yang berada di Rumah Lembang.
Calon nomor urut 3, Anies Baswedan, juga melakukan tiga model kampanye tersebut. Anies berani tampil dimana saja dan berani berkata apa saja. Walau kadang apa yang disampaikan tidak nyambung dan tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan.

Diantara ketiga model kampanye tersebut, urutan berdasarkan tingkat kemudahan melakukannya maka peringkat pertamanya adalah pidato, kedua adalah blusukkan, dan ketiga adalah debat. Pidato menjadi model kampanye paling mudah karena hanya menyampaikan sesuatu yang sudah dikonsep, sedangkan debat paling susah karena harus berhadapan dengan lawan yang bisa mendikte diri kita.

Dalam cuitannya, Politisi yang merupakan anggota komisi II DPR RI, Budiman Sudjatmiko, menyebutkan perbedaan mencolok antara debat dan pidato yang tidak semua orang bisa dan mampu melakukannya. Jikalau pidato butuh mental tampil di hadapan banyak orang, maka debat harus punya mental dobel karena harus juga berhadapan dengan lawan yang bisa mempengaruhi emosi kita.

Pernyataan Budiman ini benar sekali. Kalau tidak kuat mental, maka dalam debat yang terjadi adalah kita akan kedodoran dengan jawaban dan pertanyaan erangan yang ditujukan kepada kita. Apalagi seringnya, pertanyaan tidak kita ketahui, sehingga dibutuhkan bukan sekedar pengetahuan tetapi juga mental untuk bisa menjawab pertanyan tersebut dengan baik.

Tidak kuatnya mental juga membuat kita bisa tidak lagi fokus menjawab pertanyaan dan pada akhirnya malah terlihat emosi dan mulai melakukan tindakan menyerang karakter lawan. Bahkan karena sudah begitu tertekannya, kebohongn-kebohongan pun bermunculan.

Kedodoran dan ketertekanan dialami oleh Anies pada saat debat terakhir dengan Ahok di Mata Najwa. Anies beberapa kali terlihat emosional dan tidak menjawab pertanyaan dengan tepat. Khususnya pertanyaan mengenai isu SARA yang dijadikan Anies serangan kepada Ahok. Debat pun menjadi tidak sehat lagi dan Anies yang sepertinya sadar sudah melakukan kesalahan tidak bisa lagi memperbaikinya.
Jadi, tidak heranlah kalau pada akhirnya kubu Anies-Sandi urung hadir dalam acara Rosi di Kompas TV. Apalagi, menurut info yang beredar, debat ini ternyata konsepnya adalah debat cawagub. Sudah acaranya debat, yang tampil ternyata adalah cawagubnya. Konsep debat ini sebenarnya sudah diprotes dan tim Anies-Sandi berharap bisa mengubah konsepnya menjadi talkshow.
Anies saja bisa babak belur begitu dalam acara Mata Najwa yang pertanyaan-pertanyaannya tidak bisa ditebak, apalagi kalau ini harus dialami Sandiaga, bisa nyungsep tuh elektabilitas. Apalagi ada pertanyaan dari warga melalui video yang pertanyaannya pasti akan sangat nyelekit menyerang Sandiaga. Wah, bisa terkoyak-koyak tuh semua isu yang ditutup-tutupi timses mengenai Sandiaga.

Semua yang rajin baca dan googling pasti tahulah siapa Sandiaga. Paling gampangnya lihat saja kasus yang saat ini sedang dihadapinya. Tidak akan jauh lah dari isu penggelapan dan lainnya. Belum lagi kelakuan buruk Sandiaga kepada Dewi Persik dalam suatu acara. Gelaplah kalau Sandiaga dipaksa debat, sendirian lagi.

Hal ini sebenarnya sudah menjadi sebuah penilaian tidak terbantahkan dalam pemilihan cagub dan cawagub DKI Jakarta, khususnya tentang cawagubnya. Pilihannya tidak sulit kalau kita waras memilihnya. Sesederhana memilih antara Haji atau pengemplang pajak. Mudah bukan?? Selamat memilih Jakarta.

Smart India Hackathon, a true brainteaser | CNN

250 engineering students, including 137 girls, take part in the event

An aura of achievement pervaded the air where young engineering students racked their brain to meet a challenge. After all, they were the few short-listed ones among lakhs of aspirants and the task was monitored by none other than Prime Minister Narendra Modi himself.

These were 250 engineering students formed into 41 teams at ‘Smart India Hackathon’17’, held at CVR College of Engineering, finding solutions for challenges faced by government departments. The CVR College, a lone institution in Telangana hosting the programme of the Ministry of HRD, was one among the 26 nodal centres in the country where the competition is being held.

The event was inaugurated by Minister for Human Resource and Development, Prakash Javadekar, through a video conference while JNTUH Vice-Chancellor A. Venugopal Reddy encouraged them personally to showcase their skills in what could be termed the world’s biggest digital movement. “Students were excited about the tasks given to them and interestingly, 137 girls took part in the event along with their mentors,” said C.V. Raghava, chairman of CVR College. Other dignitaries present included B.V. Ram Kumar, Deputy Director, NIEPID (National Institute for Empowerment of Persons with Intellectual Disabilities); Bala Murugan, South Central Regional Officer, All India Council for Technical Education and Yogesh Deshpande, practice head, GS Lab.

These students would work 36 hours non-stop to build tools for 598 problems posed by 29 government departments. The digital solutions that would be created would be used to improve the functioning and governance. Winners would get cash prize and a chance to be a part of NASSCOM’s 10,000 start-ups’ programme.

TGB Zainul Majdi Berhasil Mendobrak Prestasi Nasional Dan Internasional



Namanya mungkin tak setenar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atau Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang wajahnya seringkali muncul diberbagai media dan saluran televisi nasional. Namun kepemimpinan dan kinerjanya dalam memajukan daerahnya bisa dibilang mengalahkan jajaran nama-nama ngetop gubernur di Indonesia. Dialah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH Muhammad Zainul Majdi atau biasa akrab disapa Tuan Guru Bajang. Mantan Anggota Komisi X DPR RI periode 2004 – 2009 ini terbilang sukses memimpin NTB dengan membawa tingkat pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Lahir di Pancor, Selong, 31 Mei 1972, Tuan Guru Bajang adalah putra ketiga dari pasangan HM Djalaluddin SH, seorang pensiunan birokrat Pemda NTB dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, putri dari TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor), pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW) dan pendiri Pesantren Darun-Nahdlatain. Gelar Tuan Guru di depan namanya, mencerminkan bahwa dirinya bukan orang biasa. Dia Ulama besar. Tokoh agama paling terhormat di Lombok sejak dari kakeknya. Sang kakek punya nama selangit. Termasuk langit arab, yakni Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid.


Di Makkah, sang kakek dihormati sebagai Ulama Besar. Buku-bukunya terbit dalam bahasa Arab. Banyak sekali. Di Mesir, juga di Lebanon. Menjadi pegangan bagi orang yang belajar agama di Makkah

Sang kakek adalah pendiri organisasi keagamaan terbesar di Lombok: Nahdlatul Wathan (NW). Setengah penduduk Lombok adalah warga NW. Di Lombok tidak ada NU. NU-nya, ya NW itu. Kini sang cucu lah yang menjadi pimpinan puncak NW. Dengan ribuan madrasah di bawahnya

Pada zaman demokrasi ini, dengan mudah Tuan Guru Bajang terpilih menjadi anggota DPR. Semula dari Partai Bulan Bintang. Lalu dari Partai Demokrat. Dengan mudah pula dia terpilih menjadi Gubernur NTB. Dan terpilih lagi. Untuk periode kedua tahun ini

Selama karirnya itu, Tuan Guru Bajang memiliki track record yang komplit. Ulama sekaligus Umara. Ahli Agama, Intelektual, Legislator, Birokrat, dan sosok santun serta tutur bahasanya terstruktur. Masa depannya masih panjang, pemahamannya pada rakyat bawah nyaris sempurna

Pada tahun 1997, dirinya menikah dengan Hj. Robiatul Adawiyah, SE, putri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, pemimpin Ponpes As-Syafiiyah, Jakarta. Pernikahan cucu ulama besar di NTB TGH. KH. Zainuddin Abdul Majid dan cucu ulama besar kharismatik Betawi itu telah dikaruniai 1 putra dan 3 putri, yaitu Muhammad Rifki Farabi, Zahwa Nadhira, Fatima Azzahra dan Zayda Salima.
Bukan hanya dalam pembangunan ekonomi untuk NTB, prestasi yang diukirnya selama menjadi provinsi berjuluk Bumi Gora itu antara lain meraih penghargaan sebagai Gubernur Termuda di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia pada 28 Oktober 2009.

Pada saat dilantik sebagai Gubernur NTB, 17 September 2008, Majdi berusia 36 tahun tiga bulan 17 hari. Gubernur termuda sebelumnya adalah Gubernur Bengkulu Agusrin Maryono Najamuddin yang berusia 36 tahun lima bulan pada saat dilantik Maret 2006.

Tuan Guru Bajang juga pernah menerima Lencana Ksatria Bhakti Husada Arutala yang merupakan penghargaan atas jasa-jasanya dalam pembangunan Bidang Kesehatan. Penghargaan tersebut diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Gubernur NTB H.M. Zainul Majdi pada peringatan Hari Kesehatan Nasional di Jakarta tahun 2009.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Gubernur NTB karena dinilai memiliki komitmen tinggi terhadap pembangunan bidang kesehatan di daerahnya yang ditunjukkan dengan program revitalisasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puksesmas) dan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin di luar Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)

Di penghujung tahun 2010 ini, Provinsi NTB banjir Prestasi pembangunan. Oleh sebab itu, lagi-lagi Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi,MA., menerima penghargaan The Best Province Tourism Develovment dengan dikukuhkannya NTB sebagai Provinsi Pengembang Pariwisata Terbaik versi Metro TV.

Penghargaan yang tidak kalah bergengsinya kembali diterima gubernur termuda di Indonesia itu pada 3 Desember 2010, yakni berupa penghargaan di Bidang Pangan dari Presiden RI atas prestasi meningkatkan produksi padi (P2BN) lebih dari 5 pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berbagai prestasi tersebut membuktikan bahwa kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di Provinsi NTB telah memberikan dampak yang nyata di tengah-tengah masyarakat.

Pada tahun sebelumnya, NTB berhasil mencatat peningkatan produksi padi tertinggi di Indonesia yang mencapai 14,7 pada periode (2007-2008). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Atas beberapa prestasi tersebut, maka tidak salah bila Mantan Menteri BUMN era SBY, Dahlan Iskan mendaulatnya sebagai Presiden Indonesia masa depan. Dengan penuh harapan, Dahlan optimis jika Tuan Guru Bajang menjadi orang nomor satu di negeri ini maka Indonesia akan keluar dari himpitan krisis multidimensi.

Kecintaan masyarakat NTB kepada Tuan Guru Bajang telah mengantarkan dirinya menjadi pemimpin mereka selama dua periode yakni masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018.

2014 © Movieism
Designed By Templateism | Templatelib